Showing posts with label baby. Show all posts
Showing posts with label baby. Show all posts

3.26.2016

FAQ: Pertumbuhan Bayi Prematur part.1 NICU

Udah lama sebenernya mau nulis tentang hal ini tapi nunggu Arman 2 tahun dulu. Sekarang pun anaknya baru 2 tahun kurang 2 bulan sih. Maka dari itu dicicil nulis dulu deh sis. Oya, kenapa 2 tahun?? Karena setelah 2 tahun no more corrected age.. Si preterm baby udah dianggap bisa mengejar ketertinggalan dengan fullterm baby.

Hal pertama yang akan saya bahas adalah... NICU.

Perlukah bayi prematur masuk NICU? Apa itu NICU? Dan apa yang harus saya lakukan kalau bayi saya masuk NICU?

NICU singkatan dari Neonatal Intensive Care Unit atau ruang perawatan intensif khusus untuk bayi yang baru lahir. Yang dirawat di NICU ga cuma bayi prematur (yang berat lahirnya kurang dari 2 Kg), bayi fullterm yang kuning (jaundice) atau bayi yang mengalami gangguan tertentu yang butuh perawatan intensif juga dirawat di NICU.

Sebenernya masalah penting ga penting preterm baby dirawat di NICU adalah masalah hepeng slash duit slash uang, saudara-saudara. Yes! Biaya perawatan di NICU Masya Allah mahalnya, Sis. Kalo menurut saya penting nggaknya, balik lagi ke kesiapan orang tua. Kalo bayinya sehat meskipun lahir prematur bisa aja dibawa pulang. Tapi biasanya orang tua yang punya bayi prematur biasanya udah down duluan mentalnya. Jadi sambil nunggu kesiapan orang tua, bayinya dirawat dulu deh sama rumah sakit. Biasanya bayi prematur boleh dibawa pulang jika bayi udah mengalami kenaikan berat badan yang signifikan atau sampai kondisi bayi stabil.



Kira-kira begini kenampakan bayi prematur yang dirawat di inkubator di rumah sakit.



10.06.2015

Diare berujung ISK

Halo. Bersua lagi setelah hampir satu tahun dari posting saya sebelumnya. Namanya juga udah ibu-ibu, kerja full time pula, jadi maklumin aja deh ya kalo ga pernah ngeblog. Kalo ada waktu luang sih mending tidur atau main sama si bocil.

Sebenernya ini cerita dari Desember 2014. Karna ga tau mau nulis apa. Saya ceritain itu aja ya. Jadi, semuanya berawal dari saya yang diare selama 5 hari, seumur-umur, baru kali itu pupita sampe berdarah-darah, yang efeknya ga tau kenapa bisa sampe nularin Arman satu minggu setelah saya sembuh. Padahal udah jauh-jauh dan cuci tangan yang bersih tapi kok ya bisa ketularan mencri-mencri itu anak. Itulah kali pertama Arman sakit, udah pasti dong kami panik luar biasa. Kayanya baru kemaren napas lega setelah bocahnya nginep di NICU. Awalnya kami bawa Arman ke klinik 24 jam dekat rumah tapi 12 jam kemudian bocahnya muntah-muntah terus dan tampak lemah tak berdaya *huhuu serumah pun lemah karena kurang tidur* akhirnya Arman kami bawa ke rumah sakit.

Begitu di rumah sakit, kami nunggu dulu di UGD sambil nunggu hasil lab feses dan urin. Setelah itu kami pindah ke ruang perawatan, itupun pake ada drama si nenek *ibu saya* yang marah-marah dulu karena kamarnya panas dan sekamar dengan pasien yang lagi batuk. Akhirnya Arman kami pindahin ke kamar VIP. Ada harga-ada rupa pun berlaku dalam hal pelayanan, dari yang sebelumnya perawat Kelas III jutek dan ketus luar biasa berubah menjadi perawat VIP yang super ramah dan siap melayani kapan saja. Padahal kami di Kelas III cuma sejam loh! Pret ah! Kasihan orang yang ga mampu kalo gitu, pelayanannya dihargai dari koceknya. *sigh* Begitu masuk kamar perawatan saya baru dikasih tau kalo anak diare harusnya minum sufor yang bebas laktosa. Lhaa bisa jadi obat dari klinik 24 jam ga manjur karena Arman masih saya kasih sufor biasa. Soalnya begitu dikasih sufor bebas laktosa diarenya langsung berhenti dong!

Eitsssss... dramanya belum selesai. Setelah hasil labnya keluar, untuk fesesnya ternyata ga ada infeksi bakteri *fyuuh berarti diarenya bukan karna ketularan gua* mungkin Arman diare karena perutnya lagi adaptasi pemberian mpasi dan gejala minor dari ISK (Infeksi Saluran Kemih). Meskipun fesesnya negatif ada bakteri tapi dari hasil tes urinenya ditemuin bakteri. Sebelum memutuskan untuk melanjutkan perawatan ISK, saya cari second opinion ke dokter lain. Dengan pertimbangan buruknya pelayanan rumah sakit tersebut jadi saya udah suudzon aja perawatannya dilama-lamain sama dokternya.

Sambil tanya, saya sambil browsing juga. Karna masih dalam keadaan panik, informasi yang saya dapet jadi tidak maksimal. Akhirnya, kami lanjutkan rawat inap untuk penanganan ISK. Gejala ISK sendiri tidak spesifik, untuk bayi dan balita gejalanya bisa berupa demam, rewel, diare, dan sering mengompol. Untuk memastikan ISK atau bukan harus dilakukan tes urine. Pengobatannya hanya dengan pemberian antibiotik, bisa melalui infus atau oral. Kalau tidak ditangani sejak dini, ISK bisa berujung gagal ginjal saat dewasa *amit-amit*

Hasil tes urine Arman menurut saya agak janggal, karena tidak diberi tahu jumlah koloni bakteri dan jenis bakterinya. Untuk pengambilan sampel urine secara langsung, baru positif ISK kalau jumlah bakterinya >10.000 bakteri. Terkecuali kalau sampel urinenya diambil dengan kateter, Berapapun jumlahnya sudah dbisa dipastikan itu ISK. Lalu, untuk pemberian antibiotik infus atau oral dilihat lagi dari gejalanya, kalau gejalanya cukup parah harus diinfus, kalau tidak cukup pemberian antibiotik oral aja. Waktu itu, dokter ngotot untuk ngasih antibiotik melalui infus alasannya karena antibiotik infus lebih efektif karena langsung masuk ke pembuluh darah. Oke, make sense sih alasannya. Tapi kami putuskan untuk stop rawat inap di hari ketiga, karena (1) Arman udah sehat dan ceria sampe narik selang infus dan mengakibatkan darah mancur dari pergelangan tangannya (2) Kami *yes, saya dan suami cuti buat nemenin Arman* udah bosen di rumah sakit. Akhirnya, kami minta antibiotik oral aja buat melanjutkan membasmi bakteri-bakteri itu. 

Kesimpulan dari kejadian ini adalah:
1. penting banget punya kenalan dokter biar kita punya second opinion.
2. bayi diare hanya boleh minum asi atau susu formula bebas laktosa (susu hypoallergenic)
3. diare pada bayi yang baru mulai mpasi itu sesuatu yang normal (baca di sini)
4. tidak ada gejala spesifik pada ISK (baca lebih lanjut tentang ISK di sini dan sini)
5. boleh banget curiga sama rumah sakit dalam hal lamanya perawatan. semakin lama pasien dirawat, rumah sakit makin untung dong. hal ini terutama untuk pasien yang pakai asuransi ya.


waktu itu Arman dirawat di RS J** (di Jaksel ga jauhlah dari Pejaten Village.. ketebak kan...) dengan Dr. U***** M. (dan ada juga lho blog lain yang ngasih review negatif tentang dokter tersebut)

11.22.2014

Mpasi Bayi Prematur

17 November lalu diperingati sebagai World Prematurity Day, bertepatan dengan ulang bulan Arman yang ke-6. Umur 6 bulan maka waktunya untuk mpasi. Meskipun prematur tapi Arman saya beri mpasi sesuai umur kronologisnya. Menyimpang dari literatur karena kebanyakan literatur bilang pemberian mpasi preterm baby sebaiknya dikasih saat bayi berusia 6 bulan usia koreksinya.

Sewaktu umur Arman 5 bulan, saya coba beri pisang dan Alhamdulillah dia doyan dan ga ada masalah dengan pencernaannya. Saya ga serta merta ngasih Arman mpasi karena umur dia udah 6 bulan aja, tapi dengan pertimbangan tumbuh kembang Arman sudah sesuai dengan bayi cukup bulan (hasil KPSP) dan dia sudah menunjukkan perilaku kesiapan bayi untuk menerima solid food. Berikut ciri-cirinya:
- kepala tegak. Inilah salah satu ciri yang paling penting.
- kalo melihat orang makan bayi akan ikut mengecap atau ikutan mengunyah.
- tidak timbul alergi atau mencret setelah diberi mpasi.

Dari beberapa sumber ciri-ciri yang saya sebutkan di atas ada yang bilang sebagai common sign for baby. jadi meskipun bayi < 6 bulan udah menunjukkan ciri-ciri tersebut belum tentu dia siap untuk solid food. Untuk bacaan lebih lanjut bisa baca di sini. Anggaplah untuk kasus Arman saya mengacu dari sini dan situ. :)

Sebagai perkenalan, saya beri arman bubur beras heinz farley's 4 months+ yang dilarutkan dengan susu. Di kemasannya, bubur beras tersebut aman dikonsumsi sebagai first baby food untuk rentang umur 4-6 bulan. Ternyata di UK bayi udah boleh dikasih solid food sejak 4 bulan. Bubur heinz bisa dibeli di bilna.com.

Selama satu minggu ini dalam sehari Arman makan 1-2 kali. Alhamdulillah tidak ada gangguan. Di minggu ketiga akan saya coba beri makan 3x sehari dan dicoba menu baru. Sejauh ini belom dicoba menu mpasi fresh selain pisang. Hihii maapin mamah ya, Arman, abis sama nenek ga dibolehin bikin mpasi beku sihhh :p

10.08.2014

Imunisasi di Rumah Vaksinasi

Karena berat untuk syarat imunisasi adalah > 2,2 kg maka begitu lahir Arman ga langsung diimunisasi. Dia baru diimunisasi kira2 1,5 bulan kemudian, yang pada waktu itu beratnya sekitar 2,85 kg. Jadwal imunisasi Arman mengikuti jadwal IDAI tahun 2011 karena di Rumah Sakit Margonda Depok-tempat Arman lahir *ahaaa nyebut merek juga gua* masih pakai jadwal imunisasi tahun 2011. Berikut jadwalnya.

Sampai imunisasi dpt-hib-polio 1, Arman masih imunisasi di RS Bunda Depok. Tetapi setelahnya, atau setelah 3 bulan, Arman imunisasi di Rumah Vaksinasi Kebagusan. Alasan saya pindahin tempat imunisasi karena udah empet sama bunda, hahaha. Antriannya itu lhoo jeeng! Poli anak kalo sabtu itu udah kayak sekolah tk. Ramenya minta ampun. Saya ambil antrean jam 7 pagi baru dapet giliran jam 1 siang. Udah gitu DSAnya sering banget ngaret jadi di dalam tidak bisa konsul. Setelah selesai disuntik suster akan manggil nomor antrean berikutnya. Males banget kan udah bayar mahal-mahal tapi ga bisa konsultasi. Selain itu, biaya charge dokter dan klinik di sana mihil bingit, sekitar 250.000-an gitu.
Buletlah keputusan untuk pindah ke Rumah Vaksinasi Kebagusan. Karena di sana ga ada charge dokter dan klinik. Tempatnya juga relatif sepi. Plus, hari minggu buka dan deket banget dari rumah. Oia di RV Kebagusan, dokternya-Dr.Ferina Rachmi- adalah dokter umum bukan DSA, tetapi ga masalah sih menurut saya. Kalau mau konsul gratis ke DSA bisa tanya ke twitter @DrOei, hehehe. Btw, ini daftar harga vaksin di RV. Karena ada daftar harganya jadi untuk imunisasi berikutnya kita udah tau deh kira-kira habis berapa. Selain imunisasi, di RV Kebagusan juga melayani jasa konsultasi dengan dokter umum, dokter anak, konsultasi dengan konselor laktasi, tindik kuping, dan sunat perempuan. Jika konsultasi dibarengi dengan imunisasi, biaya konsulnya free.

Sampai saat ini Arman udah dua kali imunisasi di RV kebagusan, yaitu PCV I dan dpt-hib-polio II. Kalau mengacu dengan jadwal imunisasi di atas, Arman ga diimunisasi rotavirus karena udah telat. Untuk imunisasi rota paling lambat diberikan pada bayi usia 14 minggu. Yah.. meneketehe, di bunda ga pernah dijadwalkan untuk rota jadi saya ga tau. Yaudah deh diskip jadinya. Pemberian imunisasi rota memang tujuannya untuk melindungi bayi-bayi muda dari diare jadi kalau diberikan untuk bayi >14 minggu pemberian vaksinnya sudah tidak efektif.

Bulan depan Insya Allah Arman imunisasi PCV II. Semoga gak demam ya dek!!!!!!
Wajah Arman sebelum disuntik:D

9.20.2014

when life gives you lemons...

halo. sudah berapa lama ya, saya ga ngeblog? adakah yang menanti-nanti postingan saya? kayanya cuma wida nih yang menanti saya ngeblog lagi.. hehe *ya kan cyong?* well, setahun belakangan agak sulit buat saya untuk rutin ngeblog seperti dahulu kala. setelah postingan sebelum ini, saya sibuk nyari duit, saudara-saudara. bahh sibuk... siapa juga yang hari gini ga sibuk nyari duit? diperjelas: sibuk nyari duit buat kewong ciin!! mihihihi.

iyes. saat ini status saya udah ga jadi pemain tunggal putri lagi a.k.a udah jadi bini orang. udah jadi ibu-ibu pula bahkan. kalau mau flashback lagi sepertinya ga nyangka aja kalau pada akhirnya saya harus memutuskan menikah di umur 25. prediksi saya sewaktu kuliah, kelak saya akan menikah di umur 27. tetot. prediksi meleset.

sebulan setelah menikah, tanpa dinyana *tssahelah bahasanya* saya hamil kakak-kakak sekalian. h-a-m-i-l. mungkin moment melihat hasil testpack kala itu adalah moment terspeechless dalam hidup saya. awalnya saya sempat mengusulkan ide untuk menunda merencanakan kehamilan kepada suami. akan tetapi opsi yang akhirnya kami pilih adalah memasrahkan semuanya, dikasih cepet atau belakangan biar Gusti Alloh yang atur.

okesip.

lalu, bagaimana rasanya menjadi ibu hamil? selama kurang lebih dua bulan pertama, semuanya berjalan lancar. ga ada mual, muntah, ngidam, dsb. hingga pada minggu ke-8, tiba-tiba muncul flek yang makin lama bukan sekedar flek, melainkan udah berubah jadi darah yang banjirnya kayak lagi mens hari pertama. huhuu sempat saya kira itu keguguran karena melihat tidak hanya darah tetapi juga disertai jaringan yang lepas. mungkin semacam jaringan endometrium. kondisi yang saya alami ini istilah kedokterannya disebut abortus imminens. biasanya lumrah terjadi pada kehamilan muda.

setelah dua minggu bedrest dan terapi hormon progesteron, perdarahan pun berangsur-angsur berhenti. saya kembali beraktivitas dan bekerja seperti biasa. setelah kejadian itu hingga akhir trimester kedua, kehamilan saya berjalan lancar dan bahagia. memasuki trimester ketiga, bisa dibilang drama-drama mulai bermunculan. sakit punggung, susah tidur, sering pipis, mual, muntah, dan anemia. bahkan saya sempat diinfus feritin karena kadar Hb yang rendah.

dan drama of drama terjadi di minggu ke-31. tanggal 12 mei 2014, kira-kira jam 4 sore saya mengalami pecah ketuban. hiks. pecahnya ga banyak, hanya bocor setitik. tapi karena bocor setitik ini, kehamilan saya hanya sampai minggu ke-32. Sabtu, 17 Mei 2014 pukul 15.39 saya melahirkan anak pertama saya secara operasi SC. delapan minggu lebih cepat dari hpl. 
kehamilan minggu ke-30.
tidak menyangka kalau dua minggu berikutnya akan melahirkan.
seharusnya saya menyadari sejak awal kalau ibu hamil yang pernah mengalami abortus imminens mempunyai faktor risiko untuk pecah ketuban dini dan melahirkan bayi prematur. mungkin saya kurang peka kalau bayi saya waktu itu udah "capek" mengikuti aktivitas saya. ditambah lagi waktu itu saya juga ngalamin Braxton Hicks.

huffftttt. sebenernya ga mudah bagi saya untuk menulis cerita ini. pertama, karena sifatnya personal. kedua, saya jadi sedih kalau mengingat-ingat kejadian itu. tetapi mudah-mudahan dari cerita ini, mbak-mbak yang suatu hari akan hamil atau yang sedang hamil bisa lebih aware lagi dengan kandungannya. 

kadang hidup memang harus seperti buah lemon. asem dan kecut. mungkin memang harus dikasih yang asem-asem supaya hidup kita jadi lebih bermakna dan bisa jadi orang yang lebih bersyukur. dan diingetin lagi kalo manusia hanya bisa berusaha, tetapi Allah SWT yang menentukan.

cerita preterm labor dan pengalaman di NICU akan saya share selanjutnya, ya!

Ciao Bella!
Pic from here